(artikel) harmonis dalam keluarga

prolog

ahh,,

ku teringat masa kecilku atau setidaknya masa-masa dulu,

ketika aku belum memiliki beban dan tanggung jawab, rasanya senang sekali,,  melakukan hal apapun sesuka hati

yang ada hanya perasaan senang dan senang,, sungguh masa-masa harmonis saat itu, hehhe,,

apa kaitannya dengan keluarga? tentu saja ada, karna saat itu keluargaku tergolong selah satu keluarga yang harmonis, sebelum akhirnya mereka berpisah ketika aku beranjak dewasa, sungguh masa-masa yang sulit pada waktu itu, masih teringat jelas ibuku berkerja tiap hari demi menghidupi keluarga meskipun dengan uapah yang sedikit karena beliau tidak memiliki keahlian khusus, karena memang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi tapi setidaknya itu cukup untuk menyambung kehidupan sehari-hari.

berbagai masalah yang kerap muncul dalam keluarga, hendaknya haruslah dapat diselesaikan .. masalah besar dimulai dari masalah yang kecil, dan masalah kecil timbul akibat cek-cok antara kedua belah pihak.  dan guna mewujudkan keluarga yang harmonis dimulai dari menyelaraskan pemikiran dari kedua pihak yang bersangkutan,, ingin tahu lebih jelasnya. silahkan download artikel dibawah

downlaod

(artikel) komunikasi dalam keluarga

kata pengantar

sebagai makhluk pribadi dan sosial(lebih berat ke sosial),  komunikasi adalah salah satu sarana utama dalam berinteraksi dengan orang lain, dengan komunikasi kita dapat mengerti apa yang dimaksud oleh orang lain,, dan dengan komunikasi pula kita menciptakan hubungan dengan orang lain terutama orang terdekat kita,, yaitu keluarga.

sehingga janganlah “pelit” berkomuniksi terutama dengan keluarga, sering-sering lah kita duduk bersama membicarakan berbagai hal yang kita alami seharian sambil minum teh atau menikmati cemilan yang tersedia di meja,,,

semoga artikel ini dapat membantu anda untuk lebih memahami bagaimana komunikasi dalam keluarga

download

(artikel) KONSEP MANUSIA MENURUT PSIKOLOGI DAN ISLAM

I. PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini. Oleh karenanya manusia dijadikan khalifah Tuhan di bumi karena manusia mempunyai kecenderungan dengan Tuhan.

Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik dan karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam arti tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai, selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia.

II. PEMBAHASAN

Sikap seseorang biasanya ikut dipengaruhi oleh bagaimana pandangannya terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Seseorang yang memandang dirinya sebagai yang berkuasa dan orang lain sebagai yang dikuasai cenderung bersikap otoriter. Pandangan evolusionisme biologis tentang manusia, bahwa manusia adalah binatang mamalia yang cerdas, berbeda sekali dengan pandangan spiritualisme Hindu, bahwa hakekat manusia adalah roh (atman)nya. Kalau pendidikan atau pembangunan suatu masyarakat di dasarkan kepada pandangan pertama, yang akan di perhatikan adalah pendidikan, jasmani, dan penalaran. Kalau pendidikan dan pembangunan itu di dasarkan kepada pandangan spiritualisme, yang akan diperhatikan tentu hanya pendidikan kerohanian. Demikianlah seterusnya, perbedaan sikap, orientasi pendidikan dan pembangunan pada hakekatnya kelanjutan dari bagaimana pandangan yang melaksanakannya terhadap manusia. Islam juga mengajarkan pandangan tertentu tentang manusia. Sebelum pandangan Islam ini diuraikan, terlebih dahulu ada baiknya difahami dulu perbedaan dan kelebihan manusia di banding dengan makhluk lainnya.

 

1. Manusia menurut Islam

Dalam al-Qur’an ada beberapa kata untuk merujuk kepada arti manusia yaitu insan, basyar dan bani Adam. Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “penampakan sesuatu yang baik dan indah”. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia disebut basyar karena kulitnya tampak jelas. Dan berbeda jauh dari kulit hewan yang lain. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna (dual) untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriyah serta persamaanya dengan manusia seluruhnya, karena Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan seperti yang terungkap pada al-Qur’an.

Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang di beri wahyu

(Q.S. Al-Kahfi, 18 : 110)

Dari sisi lain dapat diamati bahwa banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menggunakan kata basyar dengan mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar melalui tahap-tahap sehingga mencapai tahap kedewasaan. Misalnya Allah berfirman yang artinya sebagai berikut:

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya (Allah) menciptakan kamu dari sel, kemudian kamu menjadi basyar, kamu bertebaran” (Q.S. Ar- Rum, 30 : 20).

Bertebaran disini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran karena mencari rizki kedua hal tersebut tidak dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab. Karena itu Siti Maryam as, mengungkapkan keherananya manakala akan dapat anak padahal ia tidak pernah disentuh oleh basyar (manusia) yang menggaulinya dengan berhubungan seks. (Qs Ali Imron, 3 : 47). Begitulah terlihat, penggunaan kata basyar dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu memikul suatu tanggung jawab (amanat). Dan karena itu pula, tugas khalifah di bebankan kepada basyar (Qs Al Hajr 15 : 28 yang menggunakan basyar).

Sedangkan kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Pendapat ini jika dilihat dari sudut pandang al-Qur’an lebih tepat dibanding dengan yang berpendapat bahwa kata insan terambil dari kata nasiya (lupa, lalai) atau nasayanusu (terguncang). Kata insan digunakan al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. Jiwa dan raga, psikis dan fisik, manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lainnya, adalah akibat perbedaan fisik, psikis (mental) dan kecerdasan.

Yang jelas sekali kita dapat melihat bahwa al-Qur’an menyebutkan jiwa manusia sebagai suatu sumber khas pengetahuan. Menurut al-Qur’an seluruh alam raya ini merupakan manifestasi Allah, di dalamnya terdapat tanda-tanda serta berbagai bukti untuk mencapai kebenaran. Al-Qur’an mendefinisikan dunia eksternal sebagai al-ayat dan dunia internal sebagai jiw, dan dengan cara ini mengingat kita akan pentingnya jiwa manusia itu ungkapan tanda-tanda dan jiwa-jiwa yang terdapat dalam kepustakaan Islam bersumber dari pertanyaan sebagai berikut :

Aku akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan-Ku dari yang terbentang di horison ini dan dari jiwa mereka sendiri, sehingga tahulah mereka akan kebenaran itu”. (Q.S Fushilat, 41 : 53)

Dalam al-Qur’an, manusia berulangkali diangkat derajatnya karena aktualisasi jiwanya secara positif, sebaliknya berulangkali pula manusia direndahkan karena aktualisasi jiwa yang negatif. Mereka dinobatkan jauh mengungguli alam surgawi, bumi dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama, mereka bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan makhluk hewani. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi “yang paling rendah dari segala yang rendah” juga karena jiwanya

2. Manusia menurut Psikologi

Manusia sejak semula ada dalam suatu kebersamaan, ia senantiasa berhubungan dengan manusia-manusia lain dalam wadah kebersamaan, persahabatan, lingkungan kerja, rukun warga dan rukun tetangga, dan bentuk-bentuk relasi sosial lainnya. Dan sebagai partisipan kebersamaan sudah pasti ia mendapat pengaruh lingkungannya, tetapi sebaliknya ia pun dapat mempengaruhi dan memberi corak kepada lingkungan sekitarnya. Manusia dilengkapi antara lain cipta, rasa, karsa, norma, cita-cita dan nurani sebagai karakteristik kemanusiaannya, kepadanya diturunkan pula agama agar selain ada relasi dengan sesamanya, juga ada hubungan degan sang pencipta.

a. Manusia menurut psikologi Barat

Bertolak dari pengertian psikologi sebagai ilmu yang menelaah perilaku manusia, para ahli psikologi umumnya berpandangan bahwa kondisi ragawi, kualitas kejiwaan, dan situasi lingkungan merupakan penentu-penentu utama perilaku dan corak kepribadian manusia. Determinan tri-dimentional organo-biologi, psiko-edukasi dan sosiokultural in dapat dikatakan dianut oleh semua ahli di dunia psikologi dan psikiatri. Dalam hal ini untuk ruhani sama sekali tak masuk hitungan, karena dianggap termasuk dimensi kejiwaan dan merupakan penghayatan subjektif semata-mata.

Selain itu psikologi, apapun alirannya menunjukkan bahwa filsafat manusia yang mendasarinya bercorak anthroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segala pengalaman dan relasi-relasinya serta penentu utama segala peristiwa yang menyangkut masalah manusia dan kemanusiaan. Pandangan ini menyangkut derajat manusia ke tempat teramat tinggi, ia seakan-akan prima causa yang unik. Pemilik akal budi yang sangat hebat, serta memiliki pula kebebasan penuh untuk berbuat apa yang dianggap baik dan sesuai baginya.

Sampai dengan penghujung abad XX ini terdapat empat aliran besar psikologi :

– Psikoanalisis (psychoanalysis)

– Psikologi perilaku (behavior psychology)

– Psikologi humanistik (humanistic psychology)

– Psikologi transpersonal (transpersonal psychology)

Masing-masing aliran meninjau manusia dari sudut pandang berlainan dan dengan metodologi tertentu berhasil menentukan berbagai dimensi dan asas tentang kehidupan manusia, kemudian membangun teori dan filsafat mengenai manusia.

Menurut Freud, kepribadian manusia terdiri dari 3 kategori : aspek biologis (struktur ID), psikologis (struktur ego), dan sosiologis (struktur super ego). Dengan pembagian 3 aspek ini maka tingkatan tertinggi kepribadian manusia adalah moralitas dan sosialitas, dan tidak menyentuh pada aspek keagamaan, lebih lanjut Freud menyatakan bahwa tingkatan moralitas digambarkan sebagai tingkah laku yang irasional, sebab tingkah laku hanya mengutamakan nilai-nilai luas, bukan nilai-nilai yang berada dalam kesadaran manusia sendiri.

Teori Freud ini banyak mendapat kecaman dari psikolog lain, Paul Riccoeur misalnya menyatakan bahwa teori Freud telah memperkuat pendapat orang-orang atheis, tetapi ia belum mampu menyakinkan atau membersihkan imam orang-orang yang beragama.

Psikolog lain yang membantah teori Freud adalah Allport, menurutnya pemeluk agama yang sholeh justru mampu mengintegrasikan jiwanya dan mereka tidak pernah mengalami hambatan-hambatan hidup secara serius. Ringkasnya perlu adanya aspek agama dalam memahami kepribadian manusia.

b. Manusia menurut psikologi Islam

Sebagaimana diterangkan di atas, bahwa teori Freud tentang kepribadian manusia mendapat kecaman, maka ditawarkanlah manusia dalam perspektif psikologi Islam.

Penentuan struktur kepribadian tidak dapat terlepas dari pembahasan substansi manusia, sebab dengan pembahasan substansi tersebut dapat diketahui hakikat dan dinamika prosesnya. Pada umumnya para ahli membagi subtansi manusia atas jasad dan ruh, tanpa memasukkan nafs. Masing-masing aspek yang berlawanan ini pada prinsipnya saling membutuhkan, jasad tanpa ruh merupakan substansi yang mati, sedang ruh tanpa jasad tidak dapat teraktualisasi, karena saling membutuhkan maka diperlukan perantara yang dapat menampung kedua naluri yang berlawanan, yang dalam terminologi psikologi Islam disebut dengan nafs. Pembagian substansi tersebut seiring dengan pendapat Khair al-Din al-Zarkaly yang di rujuk dari konsep Ikhwan al-Shafa.

1) Substansi jasmani

Jasad adalah substansi manusia yang terdiri atas struktur organisme fisik. Organisme fisik manusia lebih sempurna di banding dengan organisme fisik makhluk-makhluk lain. Setiap makhluk biotik lahiriyah memiliki unsur material yang sama, yakni terbuat dari unsur tanah, api, udara dan air.]

Jisim manusia memiliki natur tersendiri. Al-Farabi menyatakan bahwa komponen ini dari alam ciptaan, yang memiliki bentuk, rupa, berkualitas, berkadar, bergerak dan diam serta berjasad yang terdiri dari beberapa organ. Begitu juga al-Ghazali memberikan sifat komponen ini dengan dapat bergerak, memiliki ras, berwatak gelap dan kasar, dan tidak berbeda dengan benda-benda lain. Sementara Ibnu Rusyd berpendapat bahwa komponen jasad merupakan komponen materi, sedang menurut Ibnu Maskawaih bahwa badan sifatnya material, Ia hanya dapat menangkap yang abstrak. Jika telah menangkap satu bentuk kemudian perhatiannya berpindah pada bentuk yang lain maka bentuk pertama itu lenyap.

2) Substansi rohani

Ruh merupakan substansi psikis manusia yang menjadi esensi kehidupannya. Sebagian ahli menyebut ruh sebagai badan halus (jism latief), ada yang substansi sederhana (jaubar basiib), dan ada juga substansi ruhani (jaubar ruhani). Ruh yang menjadi pembeda antara esensi manusia dengan esensi makhluk lain. Ruh berbeda dengan spirit dalam terminologi psikologi, sebab term ruh memiliki arti jaubar (subtance) sedang spirit lebih bersifat aradh (accident).

Ruh adalah substansi yang memiliki natur tersendiri. Menurut Ibnu Sina, ruh adalah kesempurnaan awal jisim alami manusia yang tinggi yang memiliki kehidupan dengan daya. Sedang bagi al-Farabi, ruh berasal dari alam perintah (amar) yang mempunyai sifat berbeda dengan jasad.

Menruut Ibnu Qoyyim al-Jauzy menyatakan pendapatnya bahwa, roh merupakan jisim nurani yang tinggi, hidup bergerak menembusi anggota-anggota tubuh dan menjalar di dalam diri manusia. Menurut Imam al-Ghazaly berpendapat bahwa roh itu mempunyai dua pengertian : roh jasmaniah dan roh rihaniah. Roh jasmaniah ialah zat halus yang berpusat diruangan hati (jantung) serta menjalar pada semua urat nadi (pembuluh darah) tersebut ke seluruh tubuh, karenanya manusia bisa bergerak (hidup) dan dapat merasakan berbagai perasaan serta bisa berpikir, atau mempunyai kegiatan-kegiatan hidup kejiwaan. Sedangkan roh rohaniah adalah bagian dari yang ghaib. Dengan roh ini manusia dapat mengenal dirinya sendiri, dan mengenal Tuhannya serta menyadari keberadaan orang lain (kepribadiam, ber-ketuhanan dan berperikemanusiaan), serta bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya.

Prof. Dr. Syekh Mahmoud Syaltout mengatakan bahwa roh itu memang sesuatu yang ghaib dan belum dibukakan oleh Allah bagi manusia, akan tetapi pintu penyelidikan tentang hal-hal yang ghaib masih terbuka karena tidak ada nash agama yang menutup kemungkinannya.

III. KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat kami simpulkan terdapat poin-poin penting, yaitu :

1. Manusia terdiri dari 2 substansi yaitu substansi jasad dan substansi roh

2. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi.

3. Hakikat psikologi Islam dapat dirumuskan yaitu kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI

Dr. Rifaat Syauqi Nawawi, MA., dkk., Metodologi Psikologi Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000.

Bustanuddin Agus, al-Islam, PT. Raja Grafindo persada, Jakarta, 1993.

Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995.

Abdul Mujib, M.Ag, dan Yusuf Muzakir, M.Si., Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, Offset Indah, Surabaya, 1993.

Anak STM di Garis Depan Perlawanan !!



JAKARTA, KabarKampus –Menganggap anak STM hanya bisa tawuran, salah besar. Dalam demo menolak BMM, Selasa (27/03) berujung bentrok, anak putih abu-abu juga yang berada di garis depan perlawanan.

Jumlah mereka hanya belasan. Tapi nyali anak STM ini melebihi seribuan orang. Seperti tak takut bahaya menghadang mereka terus melawan. Bersama mahasiswa yang terdesak, anak-anak STM terus melempari batu ke arah aparat kepolisian.

Saat situasi semakin chaos, anak-anak STM ini tak gentar sedikit pun. Walau terlihat mata mereka memerah akibat tembakan gas air mata, mereka terus membalas aparat dengan lemparan batu. Tenaga mereka seperti tak ada habisnya. Semangat mereka seperti ribuan titik-titik hujan.

Sebagian besar mahasiswa mundur. Tapi belasan anak STM terus bertahan di depan. Tapi apa daya ratusan aparat lengkap bersenjata yang terus menembakkan gas air mata dan peluru karet membuat anak-anak putih abu-abu ini juga mundur.

“Kalau kakak mahasiswa nggak panik mudur, mungkin kami akan tetap lanjut,” kata Galang salah satu siswa STM yang turut aksi.

Galang dan kawan-kawan menganggap aparat kepolisian itu cemen alias penakut. Polisi beraninya dari jauh tidak berhadapan langsung. “Kalo kami tawuran posisinya deket-deketan,” ungkap Galang.

Ucok salah satu siswa STM yang turut aksi menambahkan bahwa aksi ini seru. Biasanya kalau mereka tawuran yang ditakutin adalah polisi, tapi kali ini justru polisi yang diributin. Ucok, Galang, dan pasukan putih abu-abu lainnya, senyum-senyum sendiri.

“Seharusnya demo ini lebih diniatin, apalagi lawannya polisi. Pas bentrok, kalo mau mundur ya mundur semua, kalau mau maju, maju semua, kalau ketangkep, ketangkep semua,” kata Ucok mengevaluasi aksi bentrok dengan polisi.

Darmawan siswa STM yang lain menambahkan, bahwa ketertarikan mereka ikut aksi tolak kenaikan BBM ini menyadari bahwa mereka punya peran dalam perubahan bangsa. “Kalau bukan kita anak muda, siapa lagi,” kata Darmawan.

Para siswa ini melakukan aksi karena diajak sejumlah mahasiswa yang hendak menggelar aksi ke Istana Negara saat mereka pulang sekolah. Saat polisi mendesak mahasiswa mundur, para siswa ini berlarian ke rumah penduduk dan bersembunyi di atas genteng. Tidak satu pun dari mereka tertangkap dan terluka.


demo untuk ajang seru-seruan atau untuk berkorban,,  penuh tanggung jawab akan akbat yang ditimbulkan dan paling utama adalah gak mewek kalau ketangkap .. 😀

http://kabarkampus.com/2012/03/anak-stm-di-garis-depan-perlawanan/

(artikel) sistem tatasurya dan pengaruh benda langit

artikel singkat mengenai pelajaran IPA waktu SMP,,

karna halamannya lumayan dan gambarnya lumayan  maka silahkan download dahulu,,

download here

sumber, thanks to:

http://www.e-dukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Materi%20Pokok/view&id=195&uniq=all

http://www.e-dukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Materi%20Pokok/view&id=195&uniq=all

(artikel)konsep manusia menurut psi islam

Unsur manusia

Manusia diciptakan dari 2 unsur

ØTanah
ØRuh

Manusia mulai terbentuk ketika berumur 4 bulan dalam kandungan.

Perspektif manusia

Manusia adalah makhluk yang berfikir, merasa dan berkehendak, dan
kehendaknya dipandu oleh apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan.
Jiwa manusia bekerja secara sistemik, dan ditopang oleh lima
subsistem.

· Jiwa (disebut nafs) merupakan sisi dalam manusia, ia bagaikan
ruangan yang sangat luas dan didalamnya terdapat bagian-bagian
sebagai subsistemnya, terdiri dari `aql (mind), qalb (hati), bashirah
(hati nurani), syahwat (motiv) dan hawa (hawa nafsu). Tingkat
keluasan jiwa manusia berbeda-beda dipengaruhi oleh factor hereditas
dan proses interaksi psikologis sepanjang hidupnya.

1. Aqal adalah problem solving capacity, tugasnya berfikir. Akal
tidak bisa memutuskan kebenaran tapi ia bisa menemukan kebenaran.
Kebenaran intelektual sifatnya relatip

2. Qalb(hati), . merupakn alat untuk memahami realita,. Sesuatu yang
tidak rationil masih bisa difahami oleh qalb . Dalam system nafsani
qalb merupakan pusat pengendali sistem , yang memimpin kerja jiwa
manusia. Di dalam qalb ada berbagai kekuatan dan penyakit; seperti
iman, cinta dengki, keberanian, kemarahan, kesombongan, kedamaian,
kekufuran dan sebagainya. Qalb memiliki otoritas memutuskan sesuatu
tindakan, oleh karena itu segala sesuatu yang disadari oleh qalb
berimplikasi kepada pahala dan dosa. Apa yang sudah dilupakan oleh
qalb masuk kedalam memory nafs (alam bawah sadar), dan apa yang sudah
dilupakan terkadang muncul dalam mimpi. Sesuai dengan namanya qalb,
ia sering tidak konsisten.

3. Bashirah, adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan
mata kepala. Berbeda dengan qalb yang tidak konsisten, bashirah
selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran. Ia tidak bisa diajak
kompromi untuk menyimpang dari kebenaran. Bashirah disebut juga
sebagai nuraniy, dari kata nur, .Bashirah adalah cahaya ketuhanan
yang ada dalam hati, nurun yaqdzifuhullah fi al qalb. Interospeksi,
tangis kesadaran, relegiusitas, god spot,bersumber dari sini.

4. Syahwat adalah motiv kepada tingkahlaku. Semua manusia memiliki
syahwat terhadap lawan jenis, bangga terhadap anak2, menyukai benda
berharga, kendaraan bagus, ternak dan kebun. Syahwat adalah sesuatu
yang manusiawi dan netral.

5. Hawa adalah dorongan kepada obyek yang rendah dan tercela.
Perilaku kejahatan, marah, frustrasi, sombong, perbuatan tidak
bertanggung jawab, korupsi, sewenang-wenang dan sebagainya bersumber
dari hawa. Karakteristik hawa adalah ingin segera menikmati apa yang
diinginkan tanpa mempedulikan nilai-nilai moralitas.

· Orang yang ke lima subsistemnya normal, maka perilakunya
proporsional.

· Orang yang lebih mengikuti akalnya, perilakunya sangat rationil
tapi hidupnya cenderung kering,

· orang yang lebih menggunakan hatinya, hidupnya tenang meski
terkadang tidak rationil

· orang yang lebih menggunakan bashirahnya pilihannya dijamin tepat,
perilakunya dijamin benar secara vertical maupun horizontal

· Orang yang lebih mengikuti syahwatnya cenderung konsumtip dan
hedonis dalam hidupnya.

· Orang yang lebih mengikuti hawa nafsunya cenderung destruktip bagi
dirinya dan orang lain.

download versi ppt