(artikel) pragmatisme vs voluntarisme ??

  1. Pengertian voluntarisme

Nama voluntarisme sebagai salah satu paham atau aliran dalam filsafat berasal dari kata voluntas yang diambil dari bahasa latin yang berarti kehendak. Dalam bahasa inggris disebut wiill dan dalam bahasa jerman disebut wille. Para penganut filsafat voluntarisme berkeyakinan bahwa kehidupan manusia tidak dikuasai oleh rasio atau akalnya, akan tetapi oleh kehendak atau kemauannya. Bahkan menurut mereka kehendak manusia atau kekuatan yang sama dengan itu merupakan bahan utama dari alam semesta.

Secara garis besar aliran dalam filsafat voluntarisme ini dapat dibagi menjadi tiga aliran. Pertama, adalah voluntarisme psikologi. Aliran ini berkeyakinan bahwa kehendak merupakan faktor psikis utama yang memberikan dorongan timbulnya perbuatan manusia. Kehendak sebagai faktor psikis dalam diri manusia menimbulkan perbuatan. Dengan demikian manusia tidak dikendalikan oleh rasio atau akalnya, akan tetapi kehendak yng tampak pada faktor psikis manusia.

Kedua, adalah voluntarisme etika. Aliran ini mengajarkan bahwa kehendak manusia merupakan pusat bagi semua pertanyaan moral dan lebih tinggi daripada semua ukuran moral, seperti hati nurani dan kekuatan penalaran. Pilihan yang dilakukan oleh manusia berdasarkan kehandaknya merupakan penentu segala kebaikan. Artinya nilai kebaikan dan keburukan tidak ditentukan oleh rasio manusia, akan tetapi oleh kehendaknya.

Ketiga, adalah voluntarisme teodise. Mempersoalkan apakah sesuatu itu baik karena dikehendaki Tuhan, atau sebaiknya Tuhan mengehendaki sesuatu hal karena hal itu baik. Voluntarisme teodise dalam persoalan ii memilih berkayakinan bahwa segala sesuatu itu baik karena kehendak Tuhan.

 

Aliran-aliran voluntarisme (filsafat kehendak)

Richard Taylor secara garis besar membagi aliran filsafat kehendak (voluntarisme) mendaji empat bentuk, yaitu

  1. Psychological voluntarism, aliran ini berpendapat bahwa akal berada dibawah kehendak
  2. Ethical voluntarism, aliran ini berpandanang bahwa perbuatan baik atau buruk didorong oleh kehendak manusia
  3. Theological voluntarism, adalah teori yang menggambarkan keunggulan kehendak manusia atas akalnya dan dalam konsepsi teologis menggambarkan keunggulan kehedak ilahi atas kehendak manusia
  4. Metaphysical voluntarism, suatu yang menekankan pentingnya konsep kehendak untuk memahami problem-problem hukum, etikam, dan tingkah laku manusia pada umumbya (Taylor, 1966:270-272).

Selain ini dapat ditambahkan satu aliran lagi yaitu; phenomenological voluntarism, yaitu suatu upaya untuk memahami kehendak melalui metode fonomenologis(Bertens, 2001:161)

Pembicaraan tentang kehendak telah terdapat pada pemikiranfilosof Yunani Kuno. Kehendak dalam pemikiran filosof yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles ditempatkan sebagai bagian dari jiwa yang mg didorong oleh kehendak itu ditempatkan dibawah kontrol rasio meberikan daya dorong bagi manusia untuk bertindak. Tindakan manusia yang didorong oleh kehendak itu ditempatkan dibawah kontrol rasio (akal) agar kehendak tidak menjerumuskan manusia pada kesengsaraan. Kehendak ditempatkan sebagai pelayan akal, sebab kebajikan tertinggi dalam hidup adalah pengetahuan, pengetahuan merupakan hasil dari kemampuan akal atau rasio. Filosof abad pertangahan, Thomas Aquinas mengidentikkan kehendak dengan rasiol. Antara rasio dan kehendak tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan melalui pengungkapan dalam kehidupan manuisa. Rasio akan tampak dalam aktifitas intelektual, sedangkan kehendak menampakkan diri dalam aktifitas etik (moral).

Pemikiran tentang kehendak sebagai kajian khusus filsafa ditemukan dalam pemikiran Maine de Biran,Schopenhauer, Nietzsche, dan Ricoeur. Maine de Biran menyebut kehendak sebagai substansi manusia, Schopenhauer mengatakan kehendak merupakan essensi alam semesta, Nitzsehe mengunakan kehendak untuk meraih kekuasaan, dan Ricoeur menemukan dalam diri manusia ada yang dikehndaki dan ada yang tidak dikehendaki, bagi mereka kehendak buak lagi bagian dari akal, buak pelayan akal, akan tetapi kehendak merupakan hakikat manusia itu sendiri. Manusia dan dunia digerakkan oleh kehendak , buka oleh akal kemajuan peradaban manusia menurut mereka, terlaksana karena adanya dorongan kehendak, sedangkan akal manusia berfungsi untuk merealisasikannya.

Contoh :

Banyak sekali alat-alat baru yang ditemukan oleh para  menemu dalam berbagai bidang, contohnya yaitu alat-alat yang diiklankan di salah satu televisi kita, setiap harinya mereka menawarkan berbagai macam alat yang mungkin belum terpikirkan oleh kita, kita boleh berfikir bahwa perkembangan lah yang memungkinkan ditemukannya alat-alat tersebut, tapi apakah kita juga tidak berfikir bahwa ditemukannya alat-alat tersebut didasari oleh keinginan kita untuk meningkatkan efisiensi guna mengimbangi kebutuhan kita yang semakin bertambah, dengan kata lain kehendak kita lah yang mendasari terciptanya alat-alat tersebut, sedangkan pengetahuan adalah sarana untuk mewujudkannya.

 

  1. Pengertian Pragmatisme William James (1842-1910 M)

Ia memandang pemikirannya sendiri sebagai kelanjutan empirisme Inggris, namun empirismenya bukan merupakan upaya untuk menyusun kenyataan berdasarkan atas fakta-fakta lepas sebagai hasil pengamatan. James membedakan dua macam bentuk pengetahuan, pertama: pengetahuan yang langsung diperoleh dengan jalan pengamatan, kedua: merupakan pengetahuan tidak langsung yang diperoleh dengan malalui pengertian. (Mustasyir, 1999: 95)

Pemikiran yang dicetuskannya adalah aliran atau paham yang menitik beratkan bahwa kebenaran ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan memperhatikan kegunaanya secara praktis.

Di dalam bukunya “The Meaning of Truth” James mengemukakan, bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kia berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. (Sudarsono, 2001: 337)

Di dalam bukunya, The Varietes of Riligious Experience, James mengemukakan bahwa gejala-gejala keagamaan itu berasal dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari, yang mengungkapkan diri di dalam kesadaran dengan cara yang berlainan. (Praja, 2005: 172).

Tentang definisi agama, James mengambil definisi psikologi, bahwa agama merupakan perasaan, tindakan, dan pengalaman manusia individual dalam kesunyian bersama Yang Maha Tinggi. Intinya kepercayaan pada ketinggian. Ia mengatakan bahwa agama itu perlu karena berguna bagi kehidupan manusia, membuat orang jadi lebih baik.

Ada kebenaran yang yang dapat di uji secara epiris, ada kebenaran yang hanya di uji secara logis, bahkan ada kebenaran yang hanya dapat di uji dengan kekuatan rasa.

Bagi James, pengertian atau putusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan. Putusan yang tak dapat dipergunakan itu keliru. Pengertian atau keputusan itu benar, tidak saja jika terbukti artinya dalam keadaan jasmani ini, akan tetapi jika bertindak (dapat dipergunakan) dalam ilmu, seni, dan agama. (Poedjawijatna, 1980: 128)

Contoh:?? (masih bingung )

mengemukakan, bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kia berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Menurutnya, pengertian atau putusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan. Putusan yang tak dapat dipergunakan itu keliru.

source:

http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile/83/82

http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/12/pragmatisme/

 

(artikel) Pengertian voluntarisme

Pengertian voluntarisme

Nama voluntarisme sebagai salah satu paham atau aliran dalam filsafat berasal dari kata voluntas yang diambil dari bahasa latin yang berarti kehendak. Dalam bahasa inggris disebut wiill dan dalam bahasa jerman disebut wille. Para penganut filsafat voluntarisme berkeyakinan bahwa kehidupan manusia tidak dikuasai oleh rasio atau akalnya, akan tetapi oleh kehendak atau kemauannya. Bahkan menurut mereka kehendak manusia atau kekuatan yang sama dengan itu merupakan bahan utama dari alam semesta.

Secara garis besar aliran dalam filsafat voluntarisme ini dapat dibagi menjadi tiga aliran.

Pertama, adalah voluntarisme psikologi. Aliran ini berkeyakinan bahwa kehendak merupakan faktor psikis utama yang memberikan dorongan timbulnya perbuatan manusia. Kehendak sebagai faktor psikis dalam diri manusia menimbulkan perbuatan. Dengan demikian manusia tidak dikendalikan oleh rasio atau akalnya, akan tetapi kehendak yng tampak pada faktor psikis manusia.

Kedua, adalah voluntarisme etika. Aliran ini mengajarkan bahwa kehendak manusia merupakan pusat bagi semua pertanyaan moral dan lebih tinggi daripada semua ukuran moral, seperti hati nurani dan kekuatan penalaran. Pilihan yang dilakukan oleh manusia berdasarkan kehandaknya merupakan penentu segala kebaikan. Artinya nilai kebaikan dan keburukan tidak ditentukan oleh rasio manusia, akan tetapi oleh kehendaknya.

Ketiga, adalah voluntarisme teodise. Mempersoalkan apakah sesuatu itu baik karena dikehendaki Tuhan, atau sebaiknya Tuhan mengehendaki sesuatu hal karena hal itu baik. Voluntarisme teodise dalam persoalan ii memilih berkayakinan bahwa segala sesuatu itu baik karena kehendak Tuhan.

 

Aliran-aliran voluntarisme (filsafat kehendak)

Richard Taylor secara garis besar membagi aliran filsafat kehendak (voluntarisme) mendaji empat bentuk, yaitu

  1. Psychological voluntarism, aliran ini berpendapat bahwa akal berada dibawah kehendak
  2. Ethical voluntarism, aliran ini berpandanang bahwa perbuatan baik atau buruk didorong oleh kehendak manusia
  3. Theological voluntarism, adalah teori yang menggambarkan keunggulan kehendak manusia atas akalnya dan dalam konsepsi teologis menggambarkan keunggulan kehedak ilahi atas kehendak manusia
  4. Metaphysical voluntarism, suatu yang menekankan pentingnya konsep kehendak untuk memahami problem-problem hukum, etikam, dan tingkah laku manusia pada umumbya (Taylor, 1966:270-272).

Selain ini dapat ditambahkan satu aliran lagi yaitu; phenomenological voluntarism, yaitu suatu upaya untuk memahami kehendak melalui metode fonomenologis(Bertens, 2001:161)

Pembicaraan tentang kehendak telah terdapat pada pemikiranfilosof Yunani Kuno. Kehendak dalam pemikiran filosof yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles ditempatkan sebagai bagian dari jiwa yang mg didorong oleh kehendak itu ditempatkan dibawah kontrol rasio meberikan daya dorong bagi manusia untuk bertindak. Tindakan manusia yang didorong oleh kehendak itu ditempatkan dibawah kontrol rasio (akal) agar kehendak tidak menjerumuskan manusia pada kesengsaraan. Kehendak ditempatkan sebagai pelayan akal, sebab kebajikan tertinggi dalam hidup adalah pengetahuan, pengetahuan merupakan hasil dari kemampuan akal atau rasio. Filosof abad pertangahan, Thomas Aquinas mengidentikkan kehendak dengan rasiol. Antara rasio dan kehendak tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan melalui pengungkapan dalam kehidupan manuisa. Rasio akan tampak dalam aktifitas intelektual, sedangkan kehendak menampakkan diri dalam aktifitas etik (moral).

Pemikiran tentang kehendak sebagai kajian khusus filsafa ditemukan dalam pemikiran Maine de Biran,Schopenhauer, Nietzsche, dan Ricoeur. Maine de Biran menyebut kehendak sebagai substansi manusia, Schopenhauer mengatakan kehendak merupakan essensi alam semesta, Nitzsehe mengunakan kehendak untuk meraih kekuasaan, dan Ricoeur menemukan dalam diri manusia ada yang dikehndaki dan ada yang tidak dikehendaki, bagi mereka kehendak buak lagi bagian dari akal, buak pelayan akal, akan tetapi kehendak merupakan hakikat manusia itu sendiri. Manusia dan dunia digerakkan oleh kehendak , buka oleh akal kemajuan peradaban manusia menurut mereka, terlaksana karena adanya dorongan kehendak, sedangkan akal manusia berfungsi untuk merealisasikannya.

source:

http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile/83/82

(artikel)William James

,,artikel singkat,,

Teori William James

william james “Pragmatisma”

Karya terbesarnya dan paling berpengaruhnmya, The Principles Of Pshychology (Dasar-dasar Psikologi), yang diterbitkan tahun 1980, nantinya akan menjadi materi pendidikan modern yang sangat berpengaruh. Pemikirannya terhadap pendidikan dan pandangannya terhadap cara kerja pengajar dapat dilihat di karyanya yang terkenal Talks to Teacher. Selain sangat terkenal, buku-buku ini memberikan pengaruh yang besar terhadap pendidikan dan pengajarnya. Teori dan praktek pendidikan, adalah hutang terbesar Amerika kepada “ Bapak Pendidikan Psikologi Modern” ini.

Pragmatisma

Menurut James, pragmatisma adalah teori yang sesuai dengan keinginannya, atauleih tepatnya, sebua “metode”. Yang tidak untuk dibandingkan dengan pemahaman religius ataupun filsafat yang mencoba memberikan penjelasan dan pengarahan didalam hidup. Pragmatisma, berdasarkan pendapat James, adalah bersifat radikal empiris, bukan kealamian. Didalam bukunya dia mengatakan: “ Tidak ada yang baru dari metode pragmatisma”. Pramatisma mewakili “ sifat-sifat empiris”. “dan diwaktu yang sama pragmatisma ada bukan untuk memberikan hasil yang istimewa, melainkan hanyalah sebuah metode”. “Pragmatisma tidak memiliki doma, dan doktrin didalam metodenya”. “Tidak ada hasil yang berbeda, lebih lanjut lagi, tetapi hanyalah sifat-sifat pemahamanlah yang dimaksudkan dari metode pragmatisma”. Sifat-sifat seperti melihat sesuatu sebagaimana adanya, dasar-dasar, “kategori”, pengenalan keinginan; dan melihat jauhke belakang, sebab-akibat,dan,fakta.
Menurut James, penilaian dan hukuman adalah penuntun sedehana dari tingkah laku, sehingga pemikiran akan norma kita tidak bersifat selamanya; lebih kepada menyesuaikan teradap situasi. Dampaknya, perbedaan antara penilaian fakta dan penilaian harga serta perbedaan antara alasan teoris dan alasan praktikal menghilang. Kata-kata “benar”dan “nyata” menyatakan bentuk dari nilai perasaan ketidakbergunaan; dan kata “baik” adalah sebuah penyamaran. Ini adalah bukti dimana James secara tidak sadar membenarkan pendapat Nietzche mengenai kekacauan pemakaian teori norma primordial.

 

(ebook)Introduction to the History of Psychology 4th ed

karna mahalnya harga buku pelajaran saat ini, terutama buku-buku kuliah,,

menjadikan kita malas membeli buku, apalagi menghabiskan waktu tuk membacanya,,

namun bagaimana jika kita mendapatkannya secara gratis, apakah akan membuat kita rajin tuk membaca,,?

aku pikir tidak juga,,

kali ini dan untuk pertama kalinya,, akan memberikan salah satu ebook yang berkaitan dengan psikologi sejarah,,

isi dari ebook ini cukup lengkap meskipun saya sendiri hanya membacanya sekilas meskipun tanpa tahu apa atrinya,,

karna harus dipikir 2 kali untuk mencerna maksudnya, karna diketik dalam bahasa inggris,, (di internet tidak banyak artikel psikologi yang berbahasa indonesia, meskipun ada ya kurang lengkap dan isinya kadang juga sama)

untuk mengunduh silahkan  download

psikologi sejarah(catatan umum)

kisah pelajaran sejarah di fak psi mata kuliah sejarah,,  tulisan partama yang ku tulis saat selesai membuat blog ini,

kebetulan barusaja selesai mengerjakan tugas sejarah dari dosen gara-gara nggak bawa laptop makanya dikasih tugas,,

dan harus dikumpulkan besok,

mata kuliah dimulai pukul 12:30 pada hari senin , selama pelajaran isinya masih mendengarkan dan goyang-goyang kepala,,

mata kuliah ini membahas tentang sejarah yang ada kaitannya dengan psikologi secara khusus, meskipun dalam mata kuliah lain juga

kadang-kadang disisipkan sejarah psikologi, mulai dari tokoh-tokoh dengan teorinya masing-masing hingga persoalan yang masih(mungkin) berkaitan dengan sejarah,

selama mengikuti pelajaran ini saya merasa nyaman, selain karena ruangannya ber AC, di sini saya juga jarang menguap,

penyampaian dalam kuliah bisa dikatakan baik, karna adanya lcd proyektor yang dapat menampilkan materi secara lebih rinci

dan menarik kelebihan lain yaitu tidak membuang-buang waktu di papan tulis, itupun tulisan juga kurang jelas dari belakang,

dan harusnya metode pembelajaran harusnya seperti ini dengan lcd, yang harusnya ini menjadi standar bagi tiap dosen, meskipun juga tidak harus, jika memang tidak terlalu membutuhkan fasilitas tersebut dan disesuaikan dengan matakuliah yang bersangkutan juga.

sehingga kadang tak terasa bila waktu sudah menunjukan waktu pulang(karna itu kuliah terakhir), ,,