(artikel) mental health

pengertian mental health dalam psi islam berbeda dengan yang biasa kita kenal dalam istilah psikologi

ada batasan-batasan tertentu yang membedakan antara pengertian di antara keduanya,,

<__________batasan psi_______________tidak baik<–batasan psi islam–>baik_____________>

dalam mencapai syarat sehat mental pada umumnya tidak lah mudah,,

apalagi dalam pengertian islam, ,,

untuk lebih jelasnya silahkan download file dibawah,,

download

sumber

http://enkripsi.wordpress.com/2010/11/08/cara-sehat-menurut-agama-islam/

 

Disampaikan pada acara ‘Seminar Sehari’ KESEHATAN DALAM TINJAUAN
AGAMA DAN PENDIDIKAN Di Yayasan Nurul Amien Pecalongan, Jember. sumber qiblati edisi 11/III

http://tausyah.wordpress.com/2012/05/12/mengenal-penyakit-hati-sifat-sifat-buruk-yang-mengajak-manusia-agar-cenderung-berbuat-dosa-dan-kemaksiatan-sombong-adalah-sifat-iblis-beserta-cara-mengobati-dan-menanggulanginya/

(artikel) pragmatisme vs voluntarisme ??

  1. Pengertian voluntarisme

Nama voluntarisme sebagai salah satu paham atau aliran dalam filsafat berasal dari kata voluntas yang diambil dari bahasa latin yang berarti kehendak. Dalam bahasa inggris disebut wiill dan dalam bahasa jerman disebut wille. Para penganut filsafat voluntarisme berkeyakinan bahwa kehidupan manusia tidak dikuasai oleh rasio atau akalnya, akan tetapi oleh kehendak atau kemauannya. Bahkan menurut mereka kehendak manusia atau kekuatan yang sama dengan itu merupakan bahan utama dari alam semesta.

Secara garis besar aliran dalam filsafat voluntarisme ini dapat dibagi menjadi tiga aliran. Pertama, adalah voluntarisme psikologi. Aliran ini berkeyakinan bahwa kehendak merupakan faktor psikis utama yang memberikan dorongan timbulnya perbuatan manusia. Kehendak sebagai faktor psikis dalam diri manusia menimbulkan perbuatan. Dengan demikian manusia tidak dikendalikan oleh rasio atau akalnya, akan tetapi kehendak yng tampak pada faktor psikis manusia.

Kedua, adalah voluntarisme etika. Aliran ini mengajarkan bahwa kehendak manusia merupakan pusat bagi semua pertanyaan moral dan lebih tinggi daripada semua ukuran moral, seperti hati nurani dan kekuatan penalaran. Pilihan yang dilakukan oleh manusia berdasarkan kehandaknya merupakan penentu segala kebaikan. Artinya nilai kebaikan dan keburukan tidak ditentukan oleh rasio manusia, akan tetapi oleh kehendaknya.

Ketiga, adalah voluntarisme teodise. Mempersoalkan apakah sesuatu itu baik karena dikehendaki Tuhan, atau sebaiknya Tuhan mengehendaki sesuatu hal karena hal itu baik. Voluntarisme teodise dalam persoalan ii memilih berkayakinan bahwa segala sesuatu itu baik karena kehendak Tuhan.

 

Aliran-aliran voluntarisme (filsafat kehendak)

Richard Taylor secara garis besar membagi aliran filsafat kehendak (voluntarisme) mendaji empat bentuk, yaitu

  1. Psychological voluntarism, aliran ini berpendapat bahwa akal berada dibawah kehendak
  2. Ethical voluntarism, aliran ini berpandanang bahwa perbuatan baik atau buruk didorong oleh kehendak manusia
  3. Theological voluntarism, adalah teori yang menggambarkan keunggulan kehendak manusia atas akalnya dan dalam konsepsi teologis menggambarkan keunggulan kehedak ilahi atas kehendak manusia
  4. Metaphysical voluntarism, suatu yang menekankan pentingnya konsep kehendak untuk memahami problem-problem hukum, etikam, dan tingkah laku manusia pada umumbya (Taylor, 1966:270-272).

Selain ini dapat ditambahkan satu aliran lagi yaitu; phenomenological voluntarism, yaitu suatu upaya untuk memahami kehendak melalui metode fonomenologis(Bertens, 2001:161)

Pembicaraan tentang kehendak telah terdapat pada pemikiranfilosof Yunani Kuno. Kehendak dalam pemikiran filosof yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles ditempatkan sebagai bagian dari jiwa yang mg didorong oleh kehendak itu ditempatkan dibawah kontrol rasio meberikan daya dorong bagi manusia untuk bertindak. Tindakan manusia yang didorong oleh kehendak itu ditempatkan dibawah kontrol rasio (akal) agar kehendak tidak menjerumuskan manusia pada kesengsaraan. Kehendak ditempatkan sebagai pelayan akal, sebab kebajikan tertinggi dalam hidup adalah pengetahuan, pengetahuan merupakan hasil dari kemampuan akal atau rasio. Filosof abad pertangahan, Thomas Aquinas mengidentikkan kehendak dengan rasiol. Antara rasio dan kehendak tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan melalui pengungkapan dalam kehidupan manuisa. Rasio akan tampak dalam aktifitas intelektual, sedangkan kehendak menampakkan diri dalam aktifitas etik (moral).

Pemikiran tentang kehendak sebagai kajian khusus filsafa ditemukan dalam pemikiran Maine de Biran,Schopenhauer, Nietzsche, dan Ricoeur. Maine de Biran menyebut kehendak sebagai substansi manusia, Schopenhauer mengatakan kehendak merupakan essensi alam semesta, Nitzsehe mengunakan kehendak untuk meraih kekuasaan, dan Ricoeur menemukan dalam diri manusia ada yang dikehndaki dan ada yang tidak dikehendaki, bagi mereka kehendak buak lagi bagian dari akal, buak pelayan akal, akan tetapi kehendak merupakan hakikat manusia itu sendiri. Manusia dan dunia digerakkan oleh kehendak , buka oleh akal kemajuan peradaban manusia menurut mereka, terlaksana karena adanya dorongan kehendak, sedangkan akal manusia berfungsi untuk merealisasikannya.

Contoh :

Banyak sekali alat-alat baru yang ditemukan oleh para  menemu dalam berbagai bidang, contohnya yaitu alat-alat yang diiklankan di salah satu televisi kita, setiap harinya mereka menawarkan berbagai macam alat yang mungkin belum terpikirkan oleh kita, kita boleh berfikir bahwa perkembangan lah yang memungkinkan ditemukannya alat-alat tersebut, tapi apakah kita juga tidak berfikir bahwa ditemukannya alat-alat tersebut didasari oleh keinginan kita untuk meningkatkan efisiensi guna mengimbangi kebutuhan kita yang semakin bertambah, dengan kata lain kehendak kita lah yang mendasari terciptanya alat-alat tersebut, sedangkan pengetahuan adalah sarana untuk mewujudkannya.

 

  1. Pengertian Pragmatisme William James (1842-1910 M)

Ia memandang pemikirannya sendiri sebagai kelanjutan empirisme Inggris, namun empirismenya bukan merupakan upaya untuk menyusun kenyataan berdasarkan atas fakta-fakta lepas sebagai hasil pengamatan. James membedakan dua macam bentuk pengetahuan, pertama: pengetahuan yang langsung diperoleh dengan jalan pengamatan, kedua: merupakan pengetahuan tidak langsung yang diperoleh dengan malalui pengertian. (Mustasyir, 1999: 95)

Pemikiran yang dicetuskannya adalah aliran atau paham yang menitik beratkan bahwa kebenaran ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan memperhatikan kegunaanya secara praktis.

Di dalam bukunya “The Meaning of Truth” James mengemukakan, bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kia berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. (Sudarsono, 2001: 337)

Di dalam bukunya, The Varietes of Riligious Experience, James mengemukakan bahwa gejala-gejala keagamaan itu berasal dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari, yang mengungkapkan diri di dalam kesadaran dengan cara yang berlainan. (Praja, 2005: 172).

Tentang definisi agama, James mengambil definisi psikologi, bahwa agama merupakan perasaan, tindakan, dan pengalaman manusia individual dalam kesunyian bersama Yang Maha Tinggi. Intinya kepercayaan pada ketinggian. Ia mengatakan bahwa agama itu perlu karena berguna bagi kehidupan manusia, membuat orang jadi lebih baik.

Ada kebenaran yang yang dapat di uji secara epiris, ada kebenaran yang hanya di uji secara logis, bahkan ada kebenaran yang hanya dapat di uji dengan kekuatan rasa.

Bagi James, pengertian atau putusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan. Putusan yang tak dapat dipergunakan itu keliru. Pengertian atau keputusan itu benar, tidak saja jika terbukti artinya dalam keadaan jasmani ini, akan tetapi jika bertindak (dapat dipergunakan) dalam ilmu, seni, dan agama. (Poedjawijatna, 1980: 128)

Contoh:?? (masih bingung )

mengemukakan, bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kia berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Menurutnya, pengertian atau putusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan. Putusan yang tak dapat dipergunakan itu keliru.

source:

http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile/83/82

http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/12/pragmatisme/

 

(artikel) perkembangan/penciptaan manusia menurut sudut pandang islam

perkembangan/penciptaan manusia menurut sudut pandang islam

Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
(spermazoa).

2. Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.

3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.

4. Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.

Penjelasan :

Setetes,Mani
Sebelum proses fertilisasi (baca : pembuahan) terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya. Sperma-sperma melakukan perjalanan yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur karena saluran reproduksi wanita yang berbelok2, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan sperma, gerakan ‘menyapu’ dari dalam saluran reproduksi wanita,dan juga gaya gravitasi yang berlawanan.

Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, hanya akan membolehkan masuk SATU sperma saja. Setelah masuk dan terjadi fertilisasi pun,,belum tentu si zygot ini (bahasa biologinya : konseptus) menempel di tempat yang tepat di rahim. kemungkinan salahnya banyak loh. dan sekali salah, bisa berbahaya buat ibunya. Alhamdulillah kita masih normal dan mungkin mamah kita tidak mengalami gangguan pada masalah itu.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya.

Hal.ini.dijelaskan.dalam.Al-Qur’an:
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37)

Seperti yang telah kita amati, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. manusia juga terbuat dari sel telur ibunya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal dari Ilahi.

.Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim.

Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita,terbentuk sebuah sel tunggal. Sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot” dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop. dan jangan dikira prosesnya simpel dan mudah. prosesnya kompleks dan kritis. zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Kenal istilah plasenta kan?? nah, tempat menempelnya embryo dengan rahim ibu itu disebut plasenta..
Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya (Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer, Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as Described in the Qur’an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of the Qur’an and Sunnah, s. 36).

jadi ungkapan anak adalah darah dan daging bapak ibunya itu sangat benar. Di sini, pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata “‘alaq” dalam Al Qur’an:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” (QS Al ‘Alaq:1-3)

Arti kata “‘alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

.Pembungkusan Tulang oleh Otot.

Sisi penting lain tentang informasi yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an adalah tahap-tahap pembentukan manusia dalam rahim ibu. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS Al Mu’minun:14)

Embriologi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al Qur’an adalah benar kata demi katanya.

Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.

Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut:

Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.)

.Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim.

Dalam Al Qur’an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.

“… Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan [1307]. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Al Qur’an, Az-Zumar:6)

Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:

“Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran.” (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)

Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:

– Tahap Pre-embrionik

Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan (bahasa biologinya disebut lapisan lembaga ektoderm, mesoderm, endoderm :p)

– Tahap Embrionik

Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai “embrio”. Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut. pada tahap ini juga terjadi pembentukan organ2 tubuh. dan pengaturan posisi, sumbu tubuh, dan pembentukan tubuh.

– Tahap fetus

Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai “fetus”. Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.

.Yang Menentukan Jenis Kelamin Bayi.

“Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.” (QS An Najm:45-46)

Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang seperti genetika dan biologi molekuler telah membenarkan secara ilmiah ketepatan informasi yang diberikan Al Qur’an ini. Kini diketahui bahwa jenis kelamin ditentukan oleh sel-sel sperma dari tubuh pria, dan bahwa wanita tidak berperan dalam proses penentuan jenis kelamin ini.

Kromosom adalah unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. Dua dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia diketahui sebagai kromosom kelamin. Dua kromosom ini disebut “XY” pada pria, dan “XX” pada wanita. Penamaan ini didasarkan pada bentuk kromosom tersebut yang menyerupai bentuk huruf-huruf ini. Kromosom Y membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kewanitaan.

Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria.

Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita.

.Saripati Tanah dalam Campuran Air Mani.

Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.

Yang cukup menarik, ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta ini, yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran:

“Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, lalu Kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan.” (Al Qur’an, Al-Insaan:2)

Di ayat lain, mani lagi-lagi disebut sebagai campuran dan ditekankan bahwa manusia diciptakan dari “bahan campuran” ini:

“Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (Al Qur’an, As-Sajdah:7-8)

Kata Arab “sulala”, yang diterjemahkan sebagai “sari”, berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti “bagian dari suatu kesatuan”. Ini menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan firman dari Yang Berkehendak Yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.

Source:

http://alhayaat.wordpress.com/2009/05/28/proses-penciptaan-manusia-menurut-islam-dan-iptek/#comment-186 by : Ahliana Afifati (Biologi 2007)

versi docx download

(artikel) Psikologi dan Kepribadian Manusia dalam Al-Qur’an

Psikologi dan Kepribadian Manusia dalam Al-Qur’an

Para psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat hidup. Dalam masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.

Pergulatan Psikologis

Dalam kepribadian manusia terkandung sifat-sifat hewan dan sifat-sifat malaikat yang terkadang timbul pergulatan antara dua aspek kepribadian manusia tersebut. Adakalanya, manusia tertarik oleh kebutuhan dan syahwat tubuhnya, dan adakalanya ia tertarik oleh kebutuhan spiritualnya.

Al-Qur’an mengisyaratkan pergulatan psikologis yang dialami oleh manusia, yakni antara kecenderungan pada kesenangan-kesenangan jasmani dan kecenderungan pada godaan-godaan kehidupan duniawi. Jadi, sangat alamiah bahwa pembawaan manusia tersebut terkandung adanya pergulatan antara kebaikan dan keburukan, antara keutamaan dan kehinaan, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi pergulatan antara aspek material dan aspek spiritual pada manusia tersebut dibutuhkan solusi yang baik, yakni dengan menciptakan keselarasan di antara keduanya.

Disamping itu, Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa manusia berpotensi positif dan negatif. Pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada potensi negatifnya. Hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan.

Potensi positif dan negatif manusia ini banyak diungkap oleh Al-Qur’an. Di antaranya ada dua ayat yang menyebutkan potensi positif manusia, yaitu

Surah at-Tin [95] ayat 5 (manusia diciptakan dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya) dan

Surah al-Isra’ [7] ayat 70 (manusia dimuliakan oleh Allah dibandingkan dengan kebanyakan makhlik-makhluk yang lain). Di samping itu, banyak juga ayat Al-Qur’an yang mencela manusia dan memberikan cap negatif terhadap manusia. Di antaranya adalah manusia amat aniaya serta mengingkari nikmat

(Q.S. Ibrahim [14]: 34), manusia sangat banyak membantah

(Q.S. al-Kahfi [18]: 54), dan manusia bersifat keluh kesah lagi kikir

(Q.S. al-Ma’arij [70]: 19).

Sebenarnya, dua potensi manusia yang saling bertolak belakang ini diakibatkan oleh perseteruan di antara tiga macam nafsu, yaitu nafsu ammarah bi as-suu’ (jiwa yang selalu menyuruh kepada keburukan), lihat

Surah Yusuf [12] ayat 53; nafsu lawwamah (jiwa yang amat mencela),

Surah al-Qiyamah [75] ayat 1-2; dan nafsu muthma’innah (jiwa yang tenteram),

Surah al-Fajr [89] ayat 27-30. Konsepsi dari ketiga nafsu tersebut merupakan beberapa kondisi yang berbeda yang menjadi sifat suatu jiwa di tengah-tengah pergulatan psikologis antara aspek material dan aspek spiritual.

Pola-pola Kepribadian Menurut Al-Qur’an

Kepribadian merupakan “keniscayaan”, suatu bagian dalam (interior) dari diri kita yang masih perlu digali dan ditemukan agar sampai kepada keyakinan siapakah diri kita yang sesungguhnya. Dalam Al-Qur’an Allah telah menerangkan model kepribadian manusia yang memiliki keistimewaan dibanding model kepribadian lainnya. Di antaranya adalah

Surah al-Baqarah [2] ayat 1-20.

Rangkaian ayat ini menggambarkan tiga model kepribadian manusia, yakni kepribadian orang beriman, kepribadian orang kafir, dan kepribadian orang munafik.

Berikut ini adalah sifat-sifat atau ciri-ciri dari masing-masing tipe kepribadian berdasarkan apa yang dijelaskan dalam rangkaian ayat tersebut.

a. Kepribadian Orang Beriman (Mu’minun)

Dikatakan beriman bila ia percaya pada rukun iman yang terdiri atas iman kepada Allah swt., iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada Kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, percaya pada Hari Akhir, dan percaya pada ketentuan Allah (qadar/takdir). Rasa percaya yang kuat terhadap rukun iman tersebut akan membentuk nilai-nilai yang melandasi seluruh aktivitasnya. Dengan nilai-nilai itu, setiap individu seyogianya memiliki kepribadian yang lurus atau kepribadian yang sehat. Orang yang memiliki kepribadian lurus dan sehat ini memiliki ciri-ciri antara lain:

  • Akan bersikap moderat dalam segala aspek kehidupan,
  • Rendah hati di hadapan Allah dan juga terhadap sesama manusia,
  • Senang menuntut ilmu,
  • Sabar,
  • Jujur, dan lain-lain.

Gambaran manusia mukmin dengan segenap ciri yang terdapat dalam Al-Qur’an ini merupakan gambaran manusia paripurna (insan kamil) dalam kehidupan ini, dalam batas yang mungkin dicapai oleh manusia. Allah menghendaki kita untuk dapat berusaha mewujudkannya dalam diri kita. Rasulullah saw. telah membina generasi pertama kaum mukminin atas dasar ciri-ciri tersebut. Beliau berhasil mengubah kepribadian mereka secara total serta membentuk mereka sebagai mukmin sejati yang mampu mengubah wajah sejarah dengan kekuatan pribadi dan kemuliaan akhlak mereka.Singkatnya, kepribadian orang beriman dapat menjadi teladan bagi orang lain.

b. Kepribadian Orang Kafir (Kafirun)

Ciri-ciri orang kafir yang diungkapkan dalam Al-Qur’an antara lain:

  • Suka putus asa,
  • Tidak menikmati kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupannya,
  • Tidak percaya pada rukun iman yang selama ini menjadi pedoman keyakinan umat Islam,
  • Mereka tidak mau mendengar dan berpikir tentang kebenaran yang diyakini kaum Muslim,
  • Mereka sering tidak setia pada janji, bersikap sombong, suka dengki, cenderung memusuhi orang-orang beriman,
  • Mereka suka kehidupan hedonis, kehidupan yang serba berlandaskan hal-hal yang bersifat material. Tujuan hidup mereka hanya kesuksesan duniawi, sehingga sering kali berakibat ketidakseimbangan pada kepribadian,
  • Mereka pun tertutup pada pengetahuan ketauhidan, dan lain-lain.

Ciri-ciri orang kafir sebagaimana yang tergambar dalam Al-Qur’an tersebutmenyebabkan mereka kehilangan keseimbangan kepribadian, yang akibatnya mereka mengalami penyimpangan ke arah pemuasan syahwat serta kesenangan lahiriah dan duniawi. Hal ini membuat mereka kehilangan satu tujuan tertentu dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah dan mengharap rida-Nya untuk mengharap magfirah serta pahala-Nya di dunia dan akhirat.

c. Kepribadian Orang Munafik (Munafiqun)

Munafik adalah segolongan orang yang berkepribadian sangat lemah dan bimbang. Di antara sifat atau watak orang munafik yang tergambar dalam Al-Qur’an antara lain:

  • Mereka “lupa” dan menuhankan sesuatu atau seseorang selain Allah swt.,
  • Dalam berbicara mereka suka berdusta,
  • Mereka menutup pendengaran, penglihatan, dan perasaannya dari kebenaran,
  • Orang-orang munafik ialah kelompok manusia dengan kepribadian yang lemah, peragu, dan tidak mempunyai sikap yang tegas dalam masalah keimanan.
  • Mereka bersifat hipokrit, yakni sombong, angkuh, dan cepat berputus asa.

Ciri kepribadian orang munafik yang paling mendasar adalah kebimbangannya antara keimanan dan kekafiran serta ketidakmampuannya membuat sikap yang tegas dan jelas berkaitan dengan keyakinan bertauhid.

Dengan demikian, umat Islam sangat beruntung mendapatkan rujukan yang paling benar tentang kepribadian dibanding teori-teori lainnya, terutama diyakini rujukan tersebut adalah wahyu dari Allah swt. yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw., manusia teladan kekasih Allah. Oleh karena itu pula, Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah swt. ke muka bumi untuk memainkan peran sebagai model insan kamil bagi umat manusia. Kepribadian dalam kehidupan sehari-hari mengandung sifat-sifat manusiawi kita, alam pikiran, emosi, bagian interior kita yang berkembang melalui interaksi indra-indra fisik dengan lingkungan. Namun lebih dalam lagi, kepribadian sesungguhnya merupakan produk kondisi jiwa (nafs) kita yang saling berhubungan. Atau, dapat dikatakan pula bahwa kepribadian seseorang berbanding lurus dengan kondisi jiwanya (nafs).

Berangkat dari teori kepribadian di atas, maka kita dapat membagi kepribadian manusia menjadi dua macam, yaitu:

  1. 1.      Kepribadian kemanusiaan (basyariyyah)

Kepribadian kemanusiaan di sini mencakup kepribadian individu dan kepribadian ummah. Kepribadian individu di antaranya melliputi ciri khas seseorang dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan intelektual yang dimiliki masing-masing secara khas sehingga ia berbeda dengan orang lain. Dalam pandangan Islam, manusia memang mempunyai potensi yang berbeda (al-farq al-fardiyyah) yang meliputi aspek fisik dan psikis. Selanjutnya, kepribadian ummah meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai suatuummah (bangsa/negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah lakuummah muslim yang berbeda dengan ummah lainnya, mempunyai ciri khas kelompok dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan identitas tersebut dari pengaruh luar, baik ideologi maupun lainnya yang dapat memberikan dampak negatif.

2. Kepribadian samawi (kewahyuan)

Yaitu, corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci Al-Qur’an, sebagaimana termaktub dalam firman Allah sebagai berikut.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  .

Dan, bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Q.S. al-An’am [6]: 153)

Itulah beberapa gambaran mengenai psikologi dan kepribadian manusia dalam Al-Qur’an. Tentu gambaran di atas belum sepenuhnya berhasil meng-cover keseluruhan maksud Al-Qur’an mengenai manusia dengan segala kepribadiannya yang sangat kompleks. Sebab, begitu luasnya aspek kepribadian manusia sehingga usaha untuk mengungkap hakikat manusia merupakan pekerjaan yang sukar.

Walaupun demikian, paling tidak penjelasan di atas dapat memberikan gambaran bahwa manusia memiliki dua potensi yang saling berlawanan, yaitu potensi baik dan potensi buruk. Dua potensi ini lantas memilah manusia ke dalam tiga kategori, yaitu mukmin, kafir, dan munafik. Pembinaan kepribadian manusia lewat pendidikan yang baik akan menuntun manusia agar bisa memperkokoh potensi baiknya sehingga ia bisa memaksimalkan tugas utamanya untuk beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi. Sebaliknya, pembinaan kepribadian manusia yang kurang maksimal akan memerosokkan manusia ke dalam derajat yang sangat rendah, bahkan lebih rendah dari binatang.

Source:

http://annisahidayat.wordpress.com/2010/05/11/psikologi-dan-kepribadian-manusia-dalam-al-quran/ by Annisa Hidayat

[1]Ibid., hlm. 362.

[2]Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an, hlm. 364.

[3]Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan, hlm. 63-65.

[4]Penjelasan mengenai fase kehidupan manusia ini didasarkan pada Q.S. al-Mu’minun [23]: 13-14. Lihat Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Qur’an: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur’an (Jakarta: Penamadani, 2005), hlm. 105-106.

[5]Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an, hlm. 359.

[6]Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 186.

[7]M.Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 378.

[8]Ibid., hlm. 372.

[9]Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an, hlm. 373-374

[10]Ibid., 377.

[11]Ibid., hlm. 381-382.

[12]Rani Anggraeni Dewi,  “Kepribadian (Psikologi Al-Qur’an)”, dalamhttp://www.pusakahati. com, 28 Desember 2009.

[13]Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an, hlm. 384.

[14]Ibid., hlm. 387-389.

[15]Rani Anggraeni Dewi,  “Kepribadian (Psikologi Al-Qur’an)”.

[16]Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hlm. 263.

[17]M.Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 365.

versi docx download

alquran online

psi islam, tak ada hari tanpa mengumpulkan artikel,,

seriap selesai pertemuan mahasiswa dibekali tugas untuk membuat artikel,,

dengan judul sesuai bab yang akan dibahas dipertemuan berikutnya,,

dan tentunya khusus untuk kuliah psi islam, diwajibkan untuk mencantumkan ayat suci Alquran,,

pertemuan minggu kemarin banyak tugas yang sengaja dikembalikan dan harus mengulang , karena tidak memenuhi syarat tersebut,,

maka dari itu hendaknya kita lebih cermat dalam mengerjakan tugas yang diberikan, sedikit berusaha maka hasilnya akan

jauh lebih baik. biasanya artikel psi islam yang kita cari jarang mencantumkan ayat-ayat, dan hanya menampilkan surat nya saja,,

banyak situs-situs yang menampilkan Quran digital,, namun tidak semuanya lengkap secara fitur,,

nah di situs ini quranexplorer.com anda dapat menemukan hampir semua fitur yang ada,

mulai dari ayat yang dapat di copy ( situs lain biasanya dalam bentuk gambar) hingga mp3 yang bisa anda dengarkan secara langsung

ingin tahu lebih jelasnya, silahkan kunjungi.

 

http://www.quranexplorer.com/quran/

 

 

 

(artikel) Pengertian voluntarisme

Pengertian voluntarisme

Nama voluntarisme sebagai salah satu paham atau aliran dalam filsafat berasal dari kata voluntas yang diambil dari bahasa latin yang berarti kehendak. Dalam bahasa inggris disebut wiill dan dalam bahasa jerman disebut wille. Para penganut filsafat voluntarisme berkeyakinan bahwa kehidupan manusia tidak dikuasai oleh rasio atau akalnya, akan tetapi oleh kehendak atau kemauannya. Bahkan menurut mereka kehendak manusia atau kekuatan yang sama dengan itu merupakan bahan utama dari alam semesta.

Secara garis besar aliran dalam filsafat voluntarisme ini dapat dibagi menjadi tiga aliran.

Pertama, adalah voluntarisme psikologi. Aliran ini berkeyakinan bahwa kehendak merupakan faktor psikis utama yang memberikan dorongan timbulnya perbuatan manusia. Kehendak sebagai faktor psikis dalam diri manusia menimbulkan perbuatan. Dengan demikian manusia tidak dikendalikan oleh rasio atau akalnya, akan tetapi kehendak yng tampak pada faktor psikis manusia.

Kedua, adalah voluntarisme etika. Aliran ini mengajarkan bahwa kehendak manusia merupakan pusat bagi semua pertanyaan moral dan lebih tinggi daripada semua ukuran moral, seperti hati nurani dan kekuatan penalaran. Pilihan yang dilakukan oleh manusia berdasarkan kehandaknya merupakan penentu segala kebaikan. Artinya nilai kebaikan dan keburukan tidak ditentukan oleh rasio manusia, akan tetapi oleh kehendaknya.

Ketiga, adalah voluntarisme teodise. Mempersoalkan apakah sesuatu itu baik karena dikehendaki Tuhan, atau sebaiknya Tuhan mengehendaki sesuatu hal karena hal itu baik. Voluntarisme teodise dalam persoalan ii memilih berkayakinan bahwa segala sesuatu itu baik karena kehendak Tuhan.

 

Aliran-aliran voluntarisme (filsafat kehendak)

Richard Taylor secara garis besar membagi aliran filsafat kehendak (voluntarisme) mendaji empat bentuk, yaitu

  1. Psychological voluntarism, aliran ini berpendapat bahwa akal berada dibawah kehendak
  2. Ethical voluntarism, aliran ini berpandanang bahwa perbuatan baik atau buruk didorong oleh kehendak manusia
  3. Theological voluntarism, adalah teori yang menggambarkan keunggulan kehendak manusia atas akalnya dan dalam konsepsi teologis menggambarkan keunggulan kehedak ilahi atas kehendak manusia
  4. Metaphysical voluntarism, suatu yang menekankan pentingnya konsep kehendak untuk memahami problem-problem hukum, etikam, dan tingkah laku manusia pada umumbya (Taylor, 1966:270-272).

Selain ini dapat ditambahkan satu aliran lagi yaitu; phenomenological voluntarism, yaitu suatu upaya untuk memahami kehendak melalui metode fonomenologis(Bertens, 2001:161)

Pembicaraan tentang kehendak telah terdapat pada pemikiranfilosof Yunani Kuno. Kehendak dalam pemikiran filosof yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles ditempatkan sebagai bagian dari jiwa yang mg didorong oleh kehendak itu ditempatkan dibawah kontrol rasio meberikan daya dorong bagi manusia untuk bertindak. Tindakan manusia yang didorong oleh kehendak itu ditempatkan dibawah kontrol rasio (akal) agar kehendak tidak menjerumuskan manusia pada kesengsaraan. Kehendak ditempatkan sebagai pelayan akal, sebab kebajikan tertinggi dalam hidup adalah pengetahuan, pengetahuan merupakan hasil dari kemampuan akal atau rasio. Filosof abad pertangahan, Thomas Aquinas mengidentikkan kehendak dengan rasiol. Antara rasio dan kehendak tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan melalui pengungkapan dalam kehidupan manuisa. Rasio akan tampak dalam aktifitas intelektual, sedangkan kehendak menampakkan diri dalam aktifitas etik (moral).

Pemikiran tentang kehendak sebagai kajian khusus filsafa ditemukan dalam pemikiran Maine de Biran,Schopenhauer, Nietzsche, dan Ricoeur. Maine de Biran menyebut kehendak sebagai substansi manusia, Schopenhauer mengatakan kehendak merupakan essensi alam semesta, Nitzsehe mengunakan kehendak untuk meraih kekuasaan, dan Ricoeur menemukan dalam diri manusia ada yang dikehndaki dan ada yang tidak dikehendaki, bagi mereka kehendak buak lagi bagian dari akal, buak pelayan akal, akan tetapi kehendak merupakan hakikat manusia itu sendiri. Manusia dan dunia digerakkan oleh kehendak , buka oleh akal kemajuan peradaban manusia menurut mereka, terlaksana karena adanya dorongan kehendak, sedangkan akal manusia berfungsi untuk merealisasikannya.

source:

http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile/83/82

(artikel) perkembangan manusia dari sudut pandang islam

Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
(spermazoa).

2. Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.

3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.

4. Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.

ingin lebih jelasnya silahkan lihat sumber:

http://alhayaat.wordpress.com/2009/05/28/proses-penciptaan-manusia-menurut-islam-dan-iptek/

dan dibawah ini  sedikit tambahan dari artikel di atas,, agar sedikit lebih pas

download